Digergaji karena tak mau minum khamr
Urwah bin az-zubair
Kakinya Digergaji Karena Menolak Khamar
“Aku hanya bercita-cita ingin menjadi seorang alim yang mengamalkan ilmunya, orang-orang belajar Kitab Rabb, Sunnah Nabi dan hukum-hukum agama mereka kepadaku dan aku mendapatkan keberuntungan di akhirat dengan ridha Allah dan mendapatkan surga-Nya.”
Urwah bin az-Zubair
Baru saja matahari sore itu memancarkan sinarnya di Baitul Haram dan mempersilahkan jiwa-jiwa bening untuk mengunjungi buminya yang suci. Sisa-sisa para shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para pembesar tabi’in mulai berthawaf di sekeliling Ka’bah, mengharumkan suasana dengan pekikan tahlil dan takbir, memenuhi hamparan dengan doa-doa kebaikan.
Ketika orang-orang membuat lingkaran per kelompok di sekitar Ka’bah nana agung yang berdiri kokoh di tengah Baitul Haram, mereka memenuhi pandangan dengan keindahannya yang memikat dan menyimak pebicaraan-pembeciraan di antara mereka tanpa canda dan perkataan dosa.
Di dekat rukun Yamani, duduklah empat orang pemuda yang masih remaja, terhormat nasabnya dan berbaju harum, bagaikan merpati-merpati masjid, berbaju mengkilat dan membuat hati jinak karenanya. Mereka adalah Abdullah bin Zubair,Mush’ab bin Zubair,Urwah bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwan.
Terjadi perbincangan ringan dan sejuk di antara anak-anak muda ini. Tak lama kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Hendaklah masing-masing dari kita memohon kepada Allah apa yang hendak dia cita-citakan”.
Khayalan mereka terbang ke alam ghaib nan luas. Angan-angan mereka berputar-putar di taman-taman harapan nan hijau. Abdullah bin az-Zubair berkata.”Aku ingin mengusai Hijaz dan memegang khilafah.”
Mush’ab berkata,”Aku ingin menguasai dua Irak (Khuffah dan Bashrah ) sehingga tidak ada orang yang menyaingiku.” Sedangkan Abdul Malik bin Marwan berkata.”Jika engkau berdua hanya puas dengan hal itu saja, maka aku tak akan puas kecuali mengusai dunia semuanya dan aku ingin memegang kekhilafan setelah Muawiyah bin Abi Sufyan.”
Sementara itu, Urwah bin Zubair terdiam dan tidak berbicara satu kalimat pun. Saudara-saudaranya tersebut menoleh ke arahnya dan berkata,”Apa yang engkau cita-citakan, wahai Urwah?”
Dia menjawab,”Mudah-mudahan Allah memberkati kalian semuia terhadap apa yang yang kalaian cita-citakan dalam urusan dunia kalian. Sedangkan aku hanya bercita-cita ingin menjadi seorang alim yang mengamalkan ilmunya, orang-orang belajar Kitab Rabb,Sunnah Nabi dan hukum-hukum agama mereka kepadaku dan akau mendapatkan keberuntungan di akhirat dengan ridha Allah dan mendapatkan surga-Nya.”
Waktu berlari begitu cepat. Allah mengabulkan permohonan hamba-Nya. Abdullah bin Zubair dibaiat menjadi khalifah setelah kematian Yazid bin Muawiyah (khalifah kedua dari khalifah Bani Umayyah). Dia pun mengusai kawasan Hijaz,Mesir,Yaman, Khurasan dan Irak. Kemudian dia dibunuh di sisi Ka’bah tak jauh tempat dia pernah bercita-cita tentang hal itu.
Mush’ab bin Zubair pun mengusai pemerintahan Irak sepeninggal saudaranya, Abdullah. Namun dia juga dibunuh dalam mempertahankan kekuasaan tersebut.
Demikian pula Abdul Malik bin Marwan memangku jabatan Khalifah setelah ayahnya wafat. Di tanganya kaum muslimin bersatu setelah pembunuhan terhadap Abdullah bin Zubair dan saudaranya Mush’ab di tangan pasukanya. Kemudian dia menjadi penguasa terbesar di dunia pada zamanya.
Bagaimana dengan Urwah bin Zubair? Mari kita mulai kisahnya dari awal.
Urwah bin az-Zubair dilahihrkan setahun sebelum berakhhirnya kekhalifahan Umar al-Faruq, dalam keluaraga paling terpandang dan terhormat kedudukanya.
Ayahnya adalah Zubar bin ‘Awwam, shahabat dekat dan pendukung Rasulullah shallallahu Alaihi wa Sallam, orang pertama yang menghunus pedang di dalam Islam dan salah satu dari 10 orang yang dijanjikan masuk surga.
Ibunya bernam Asma’ binti Abu Bakar yang berjuluk Dzatun Nithaqain (Pemilik Dua Ikat pinggang). Kakeknya dari pihak ibunya tidak lain adalah Abu Bakar ash-Shidiq, khalifah Rasulullah Shallallhu Alahi wa Sallam dan shahabatnya ketika berada di dalam gua Tsur. Neneknya dari pihak ayahnya bernama Shafiyah binti Abdul Muthalib, bibi rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sedangkan bibinya adalah Ummul Mukminin Aisyah. Saat jenazah Aisyah dikubur, Urwah sendiri yang turun ke kuburnya dan meratakan liang lahadnya dengan kedua tanganya.
Apakah Anda mengira bahwa setelah kedudukan ini, ada kedudukan lain di atas kemuliaan ini, ada kemuliaan lain selain kemuliaan iman dan kewibawaan Islam?
Untuk merealisasikan cita-cita yang telah ia harapkan perkenaan Allah atasnya saat di sisi Ka’bah itu, dia tekun mencari ilmu dan memfokuskan diri serta menggunakan kesempatan untuk menimba ilmu dari para shahabat Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang masih hidup.
Dia rajin mendatangi rumah-rumah mereka, shalat di belakang mereka dan mengikuti pengajian-pengajian. Dia berhasil menimba riwayat dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit,Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas dan an-Nu’man bin Basyir. Dia banyak sekali menerima riwayat dari bibinya, Ummul Mukminin Aisyah sehingga dia menjadi salah satu dari Tujuh Ahli Fiqh Mdinah(al-Fuqaha’as-Sab’ah) yang menjadi rujukan kaum muslimin dalam memepelajari agama.
Para pejabat yang shalih meminta bantuan dalam mengemban tugas yan dilimpahkan Allah terhadap urusan umat dan Negara. Salah satu contohnya adalah tindakan Umar bin Abdul Aziz ketika datang ke Madinah sebagai gubernur atas mandat dari Khalifah Walid bin Abdul Malik. Orang-orang datang kepadanya untuk menyampaikan salam.
Ketika selesai melaksanakan shalat Zuhur, dia memanggil sepuluh Ahli Fiqh Madinah yang diketuai oleh Urwah bin Zubair. Ketika mereka berada di sisinya, dia menyambut dengan hangat. Kemudian dia memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan sanjungan yang pantas bagi-Nya, lalu berkata:”Sesungguhnya aku memanggill kalian untuk sesuatu yang kiranya kalian semuan diganjar pahala karenanya dan menjadi pendukung-pedukungku dalam berjalan di atas kebenaran. Aku tidak ingin memutuskan sesuatu tanpa pendapat kalian semua atau pendapat orang yang hadir dari kalian-kalian semua. Jika kalian semua melihat seseorang menyakiti orang lain, atau mendengar sesuatu kezhaliman dilakukan oleh pegawaiku, maka demi Allah aku minta agar kalian melaporkannya kepadaku.”
Urwah bin Zubair mendoakan kebaikan baginya dan memohon kepada Allah agar menganugrahi ketetapan dalam bertindak dan berbicara dan mendapatkan petunjuk.
Urwah bin Zubair benar-benar menyatukan ilmu dan amal. Dia banyak berpuasa di kala hari demikian teriknya dan banyak shalat malam di kala malam gelap-gulita, selalu membasahi lisanya dengan dzikir kepada Allah.
Selain itu, dia selalu menyertai Kitab Allah dan tekun membacanya. Setiap harinya, dia membaca seperempat al-Qur’an dan melihat ke mushafnya. Kemudian dia membacanya dalam shalat malam hari dengan hafalan. Dia tak pernah meninggalkan kebiasaannya itu semenjak menginjak remaja hingga wafatnya, kecuali satu kali disebabkan musibah yang menimpanya.
Urwah bin Zubair mendapatkan kedamaian hati, kesejukan mata dan surga dunia dalam shalatnya. Karenanya,dia melakukanya dengan sebaik-baiknya, melengkapi syarat rukunnya dengan sempurna dan berlama-lama di dalamanya.
Diriwayatkan, dia pernah melihat seorang yang sedang melakukan shalat dengan cepat. Maka ketika orang itu selesai shalat, dia memanggilnya dan berkata padanya,”Wahai anak saudaraku! Apakah engkau tidak mempunyai keperluan kepada Tuhanmu? Demi Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Allah di dalam shalatku segala sesuatu bahkan garam sekalipun.”
Urwah bin Zubair adalah juga seseorang dermawan, pemaaf dan pemurah. Di antara contoh kedermawanya adalah dia mempunyai sebuah kebun yang paling luas di seantero Madinah. Airnya nikmat, pohon-pohonnya rindangdan kurma-kurmanya tinggi. Diamemagari kebunya selama setahun untuk menjaga agar pohon-pohonnya terhindar dari gangguan binatang dan keusilan anak-anak. Jika sudah waktu panen, buah-buahnya dipetik dan siap dimakan, dia menghancurkan kembali pagar kebunya tersebut agar orang-orang mudah memetik kebunya.
Mereka pun memasukinya untuk memakan buah-buahnya dan membawanya pulang dengan sesuka hati. Setiap kali memasuki kebunya ini, dia menggulang-ulang firman Allah,”Dan mengapa engkau tidak mengucapkan tatkala engkau memasuki kebunmu “Masya Allah, La haula wala quawwata illa billah, (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).”(QS.AL-Kahfi:39).
Suatu hari, di massa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik, khalifah keenam Bani Umayyah, Allah berkehendak untuk menguji Urwah bin Zubair dengan ujian berat, yang tak akan ada orang yang mampu bertahan menghadapinya kecuali orang yang hatinya penuh keimanan dan keyakinan.
Khalifah kaum muslimin mengundang Urwah bin Zubair supaya mengunjunginya di Damaskus. Urwah memenuhi undangan tersebut dan membawa serta anak tertuanya.
Khalifah pun menyabutnya dengan hangat dan memuliakanya. Namun saat di sana, Allah berkehendak lain. Ketika putra Urwah memasuki kandang kuda Walid untuk bermain-main dengan kuda-kudanya yang tangkas, salah satu dari kuda itu menendangnya dengan keras hingga meninggal seketika. Belum lama sang ayah yang bersedih menguburkan putranya, salah satu kakinya terkena tumor ganas (semacam kusta) yang dapat menjalar keseluruh tubuh. Betisnya membengkak dan tumor itu dengan sangat cepat berkembang dan menjalar.
Karena itu, khalifah memanggil para dokter dari segala penjuru untuk tamunya dan meminta mereka untuk mengobatinya dengan segala cara. Tapi, para dokter sepakat bahwa tidak ada jalan lain untuk mengatasinya selain memotong betis Urwah, sebelum tumor itu menjalar ke seluruh tubuhnya dan merenggut nyawanya. Tak ada alasan lagi untuk menerima kenyataan itu.
Ketika dokter bedah datang untuk memotong betis Urwah dan membawanya peralatannya untuk membelah daging dan gergaji untuk memotong tulang, dia berkata kepada Urwah,”Menurutku, engkau harus meminum sesuatu yang memabukan supaya tidak merasa sakit ketika di potong.”
Urwah berkata,”Tidak! Itu tidak mungkin! Aku takkan menggunakan sesuatu yang haram terhadap kesembuhan yang aku harapkan.” Dokter itu berkata lagi,” kalau begitu aku akan membiusnmu.”
Urwah berkata,” aku tidak ingin kalau ada satu dari anggota badanku yang diambil sedangkan aku tidak merasakan sakitnya. Aku hanya mengharap pahala di sisi Allah atas hal ini.” Ketika dokter itu mulai memotong betis, datanglah beberapa orang tokoh kepada Urwah, maka Urwah pun berkata,”Untuk apa mereka datang”
Ada yang menjawab,” Mereka didatangkan untuk memegangmu, barangkali engkau merasakan sakit yang amat sangat,lalu menarik kaki dan akhirnya membahayakan dirimu sendiri.”
Urwah berkata, “Seluruh mereka kembali. Aku tidak membutuhkan mereka dan merasa cukup dengan zikir dan tasbih dan yang aku ucapkan,”Kemudian sampai mendekatinya dan memotong daginya dengan alat bedah. Ketika sampai kepada tulang, dia meletakan gergaji padanya dan mulai menggergajinya, sementara membaca,”Lailahaillallah, wallahu Akbar.”
Dokter terus menggergaji, sedangkan Urwah tak henti bertahlil dan bertakbir hingga kaki itu bunting. Kemudian dipanaskan minyak dalam bejana besi. Kaki Urwah dicelupkan ke dalamnya untuk menghentikan darah yang keluar dan menutup luka. Ketika itulah, Urwah pingsan sekian lama yang menghalanginya untuk membaca Kitab Allah pada hari itu. Itu adalah satu-satunya bacaan al-Qur’an yang dilewati olehnya sejak dia menginjak remaja. Ketika siuman, Urwah meminta potongan kakinya lalu mengelus-elus dengan tanganya dan meminang-minag seraya berkata:
“Sungguh, Demi Dzat Yang Mendorongku untuk mengajakmu berjalan di tengah malam menuju masjid, Dia Maha mengetahui bahwa akutidak pernah sekali pun membawamu berjalan kejalan kepada hal yang haram.”
Kemudian dioa mengucapkan bait-bait syair karya Ma’n bin Aus
Demi Engkau, aku tidak pernah mengijakkkan telapak tanganku pada sesuatu yang meragukan.
Kakiku tidak pernah mengijakku untuk melakukan kekejian
Telinga dan mataku tidak pernah mengiringku kepadanya.
Pendapatku dan akalku tidak pernah menunjuk kepadanya.
Ketahuilah, sesungguhnya tidaklah musibah menimpaku
Sepanjang masa melainkan ia telah menimpa orang sebelumku
Khalifah Walid bin Abdul Malik benar-benar merasa sedih terhadap musibah yang menimpa tamu agungnya. Dia kehilangan putranya, lalu dalam beberapa hari kehilangan kakinya pula. Walid tak bosan-bosan menjenguknya dan mendorongnya untuk bersabar terhadap musibah yang dialaminya. Kebetulan ketika itu, ada sekelompok orang dari Bani Abs singgah di kediaman Khalifah. Di antara mereka ada seorang buta. Walid bertanya padanya perihal sebab kebutaanya.
Orang itu menjawab,”Wahai Amirul Mukminin! Dalam komunitas Bani Abbas, tak ada orang yang harta, keluarga dan anaknya lebih banyak dariku. Lalu aku bersama harta dan keluargaku singgah di pedalaman suatu lembah sdari lembah-lembah tempat tinggal kaumku. Lalu terjadi banjir besar yang belum pernah aku saksikan sebelumnya. Banjir itu menghanyutkan semua yang aku miliki: harta, keluarga dan anak. Yang tersisa hanyalah seekor unta dan bayi yang baru lahir. Sedangkan unta yang tersisa itu adalah unta yang binal sehingga lepas. Akibatnya, aku meninggalkan sang bayi tidur di atas tanah untuk mengejar unta tersebut. Belum begitu jauh aku meninggalkan tempatku, tiba-tiba aku mendengar jeritan bayi tersebut. Aku menoleh namun ternyata kepalanya telah berada di mulut serigala yang sedang menyantapnya. Aku segera menyosongnya namun sayng aku tidak bisa menyelamatkanya, karena serigala telah membunuhnya. Lalu aku mengejar unta dan ketika aku berada didekatnya, ia menendangku dengan kakinya. Tendanganku itu mengenai wajahku, sehingga keningku robek dan mataku buta. Begitulah aku mendapatkan diriku dalam satu malam telah menjadi orang yang tanpa keluarga, anak, harta dan mata.”
Walid berkata kepada pengawalnya,”Ajaklah orang ini menemui tamu kita Urwah bin az-Zubair. Mintalah dia mengisahkan ceritanya supaya Urwah mengetahui bahwa ternyata masih ada orang yang mengalami cobaan yang lebih berat darinya.”
Ketika Urwah diangkut ke Madinah dan dipertemukan dengan keluarganya, dia mendahului mereka dengan ucapan.”Jangan, kalian merasa ngeri terhadap apa yang kalian lihat. Allah telah menganugrahi empat orang anak , lalu mengambil satu diantara mereka dan masih menyisakan tiga orang lagi. Segala puji hanya untuk-Nya. Dia memberiku empat anggota badan, kemudian kemudian Dia mengambil satu darinya dan masih menyisakan tiga untukku. Maka segala puji bagi-Nya. Dia juga telah memberiku empat buah yang memiliki ujung (kedua tangan dan kedua kaki-peny). Lalu Dia mengambilnya satu dan menyisakan tiga buah lagi untukku. Demi Allah, jika Dia telah mengambil sedikit dariku, namun Dia telah menyisakan banyak untukku. Jika Dia menguji satu kali, namun Dia menganugrahi kesehatan berkalai-kali.”
Ketika penduduk Madinah mengetahui kedatangan imam mereka Urwah bin Zubair, merekaq berbondong-bondong datang kerumahnya untuk menghibur dan menjenguknya. Di antara untaian kata yang paling berkesan adalah perkataan Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah:”Bergembiralah wahai Abu Abdllah! Salah satu anggota badan dan anakmu telah mendahuluimu menuju syurga. Keseluruhanya akan mengikuti sebagiannya itu, insya Allah. Sungguh, Allah telah menyisakan sesuatu untuk kami yang sangat kami butuhkan dan perlukan, yaitu ilmu, fiqh dan pendapatmu. Mudah-mudahan Allah menjadikannya bermanfaat bagimu dan kami. Hanya Allah Dzat Maha Menanggung pahala untukmu dan Yang Maha Menjamin balasan kebaikan amalmu.”
Urwah bin Zubair tetap menjadi menara hidayah. Petujuk kebahagiaan penyeru kebaikan bagi kaum muslimin sepanjang hidupnya. Dia sangat peduli terhadap pendidikan dan anak-anak muslimin, khususnya anak-anaknya. Dia tidak pernah membiarkan kesempatan berlalu tanpa digunakan untuk memberikan penyuluhan dan nasihat pada mereka.
Misalnya, dia selalu mendorong anak-anaknya untuk menuutut ilmu ketika berkata pada mereka,”Wahai anakku! Tuntutlah ilmu dan kerahkanlah segala kemampuan dengan semestinya. Sebab, jika sekarang ini hanya sebagai orang-orang kecil, mudah-mudahan saja berkat ilmu Allah menjadikan engkau orang-orang besar.”
Penuturan lainya,” Aduh bertapa buruknya. Apakah di dunia ini ada sesuatu yang lebih buruk daripada orang tua yang bodoh?”
Dia juga menyuruh mereka untuk menilai sedekah sebagai hadiah yang dipersembahkan untuk Allah.”Wahai anakku! Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalaian mempersembahakan hadiah kepada Rabb-nya berupa sesuatu yang dia merasa malu kalau dihadiahkan kepada tokoh yang dimuliakan dari kaumnya. Karena Allah, Dzat Yang Paling Mulia, Paling Dermawan dan Yang Paling Berhak untuk dipilihkan (persembahan) untuk-Nya.”
Dia juga pernah menjelaskan kepada anak-anaknya tentang tipikal manusia,
“Wahai anakku! Jika engkau melihat seseorang berbuat kebaikan yang amat menawan, maka harapkanlah kebaikan dengannya, meskipun di mata orang lain dia seorang jahat. Karena kebaikan itu memliki banyak saudara. Jika engkau melihat seseorang berbuat keburukan yang nyata, maka menghindarlah darinya, meskipun di mata orang lain, dia adalah orang baik. Karena keburukan itu juga memiliki banyak saudara. Ketauhilah. Kebaikan akan menunjukan kepada saudara-saudaranya. Demikian pula dengan keburukan.”
“Wahai anakku! Jika engkau melihat seseorang berbuat kebaikan yang amat menawan, maka harapkanlah kebaikan dengannya, meskipun di mata orang lain dia seorang jahat. Karena kebaikan itu memliki banyak saudara. Jika engkau melihat seseorang berbuat keburukan yang nyata, maka menghindarlah darinya, meskipun di mata orang lain, dia adalah orang baik. Karena keburukan itu juga memiliki banyak saudara. Ketauhilah. Kebaikan akan menunjukan kepada saudara-saudaranya. Demikian pula dengan keburukan.”
Dia juga berwaisat kepada anak-anaknya supaya berlaku lemah lembut, berbicara baik dan bermuka ramah. Dia berkata,”Wahai anakku, sebagaimana tertulis didalam hikmah, ’Hendakalah engkau berkata-kata baik dan berwajah ramah, niscaya engkau akan lebih dicintai ketimbang cinta mereka pada orang yang selalu memberikan mereka hadiah.”
Jika dia melihat manusia cenderung untuk berfoya-foya dan menilai baik kenikmatan duniawi, dia mengingatkan mereka tentang kondisi Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam yang penuh dengan kesahajaan dan kepapaan.
Muhammad bin al-Munkadir, seorang tabi’in dari Madinah (wafat tahun 130 H), menuturkan,”Saat Urwah bin Zubair menemaniku dan memegang tanganku, dia berkata,”Wahai Abu Abdullah!’ lalau aku menjawab,”Labbaik.”
Kemudian dia berkata,”Saataku menemui Ummul Mukminin, Aisyah, dia berkata, ‘Wahai anakku’. Aku menjawab, “Labbaik.’
Dia berkata lagi,’Demikian Allah, sesungguhnya kami dahulu pernah sampai selama 40 malam tidak menyalakan api di rumah Rasullullah Shallallahu Alahi wa Sallam, baik untuk lentera maupun yang lainnya.’
Aku berkata,’Wahai Ummi, bagaimana kalian semua dapat hidup?”
Dia menjawab,’Dengan dua benda hitam (aswadan): kurma dan air.’
Hidup Urwah bin Zubair mencapai 71 tahun. Ia mengisinya dengan kebajikan dan ketaqwaan.
Ketika ajal menjelang, dia sedang berpuasa. Keluarganya ngotot memintanya agar berbuka. Namun dia menolak. Dia berharap kelak dia bisa berbuka dengan seteguk air sungai al-Kautsar dalam bejana emas dan dari tangan bidadari.
Disarikan dari beberapa sumber, antara lain: Shuwar min Hayah at-Tabi’in, Abdurrahman Ra’fat Basya;’Ashr at-Tabi’in, Abdul Mun’im al-Hasyim; Shuwar at-Tabi’in, Azhari Ahmad Mahmud dan Min A’lam as-Salaf, karya Ahmad bin Abdullah an-Namlah
101 KISAH TABI’IN, Hepi Andi Bastoni, 2006, PUSTAKA AL-KAUTSAR, Jakarta Timur.
Komentar
Posting Komentar