seorang zuhud yang syahid
Uwais bin Amir al-Qarni
Seorang zuhud yang Syahid
“Mintalah ampunan untukku, wahai
Uwais!”
Suatu ketika Rasullullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam sedang duduk diantara shahabatnya: antara lain Abu
Hurairah, Umar, Ali dan lainnya. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya sebaik-baik
generasi tabi’in adalah Uwais. Dia
mempunyai seorang ibu dan mempunyai
belang putih ditubuhnya. Lalu dia berdoa hingga Allah menghilangkan belang
tersisa sebentuk dirham.”
Rasulullah memintakan ampunan
untuknya dan melanjutkan pembicaraannya.
Tokoh kita ini, Uwais al-Qarni adalah teladan bagi orang yang
zuhud. Ia adalah salah seorang dari delapan orang yang zuhud yang menghindarkan
diri dari dunia, sehingga Allah menjaga mereka dan memberikan kasih saying dan
keridhaan-Nya. Uwais al-Qarn adalah tokoh darii generasi tabi’in di zamannya.
Sedemikian dituturkan Imam adz-Dzahabi. Ia juga dikenal sebagai junjungan dari
orang-orang yang dikatakan oleh Allah
dalam firman-Nya:
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ
وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا
أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١٠٠)
100.
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan
muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah
ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi
mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya.
mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.,”(QS.at-Taubah:100)
Dia
adalah Abu Amr bin Amir Juz’I bin Malik al-Qarni al-Muradi al-Yamani. Qarn
adalah salah satu suku dari salah kabilah Arab bernama Murad. Tokoh kita ini
juga termasuk satu dari wali Allah yang bertaqwa.
Ia
dilahirkan saat terjadi peristiwa hijrah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam ke Madinah. Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam telah membicarakan
tentang dirinya. Ia mempunyai seorang ibu yang ia hormati.
Rasulullah
Shallallahu Alahi wa Sallam melanjutkan penjelasannya tentang sifat Uwais
al-Qarni. Beliau bersabda, “Wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya Allah mencintai
dari makhluk-makhluk-Nya yang bersih hatinya, tersembunyi, yang baik-baik,
rambutnya acak-acakan, wajahnya berdebu, yang kosong perutnya kecuali dari
(hasil) pekerjaan yang halal, orang-orang yang apabila meminta izin kepada para
penguasa maka tidak diizinkan, jika melamar wanita-wanita yang menawan maka
mereka tidak (mau) meningkah. Jika tidak ada, mereka tidak dicari. Ketika
hadir, mereka tidak di undang. Jika muncul, kemunculannya tidak disikapi dengan
kegembiraan. Apabila sakit, mereka tidak dijenguk. Dan jika mati, tidak
dihadiri prosesi pemakamanya.”
Rasul
menjawab,”Orang itu adalah Uwais al-Qarni.”
Rasul
menjawab,”Seorang yang warna bola matanya bercampur, mempunyai warna
kekunig-kuningan, berbahu lebar, berbadan tegap, warna kulitnya terang, dagunya
sejajar dengan dadanya, menundukkan dagunya ke tempat sujudnya, meletakan
tangan kananya di atas tangan kirinya, membaca al-Quran lalu menagis,
mengenakan sarung dari wol, pakaian atasnya dari woll, tidak dikenal penghuni
bumi, terkenal dikalangan penghuni langit, apabila bersumpah atas Nama Allah
maka ia pasti memenuhi sumpahnya. Sungguh di bawah bahu kirinya ada cahaya
berwarna putih. Sungguh, ketika hari Kiamat diperintahkan kepada para
hamba,’Masuklah kalian ke dalam surga.’ Dan dikatakan kepada
Uwais,’Berhentilah! Berhentilah syafaat! Lalu Allah memberikan hak syafaat
kepadanya untuk menolong sejumlah orang dari suku Rabi’ah dan Mudhar (dua
kabilah bangsa Arab). Wahai Umar, wahai Ali! Apabila kalian berdua bertemu
dengannya maka mintalah kepada agar kiranya ia memintakan ampunan untuk
kalaian, maka Allah mengampuni kalian berdua.”
Ini
adalah awal dari sejarah perjalanan hidup Uwais. Bagaimana gerangan dengan
kabar gembira yang Allah kepadanya.
Belasan
tahun berlalu…..
Jika
didatangi delegasi dari penduduk Yaman, Umar bin Khatab selalu bertanya kepada
mereka,:Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais al-Qarni?” Dalam
memorinya, ia selalu ingat cerita Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
tentang sosok Uwais. Karena itu, Umar secara khusus menanyakan nama dan sosok
pribadinya. Marilah kita simak cerita Umar.
Suatu
hari, datang rombongan dari Yaman. Seperti biasa Umar berdiri dan selalu
menanyakan,”Apakah di antara kalaian ada yang bernama Uwais bin Amir? Mereka
menjawab,”Ya.”
Lalu
Umar berjalan menghampiri Uwais dan bertanya,”Engkau Uwais bin Amir?”
Orang
itu menjawab,”Ya”
Umar
berkata,’Dari suku Murtad dan Qarn?”
Dia
menjawab,”Ya.”
Umar
bertanya,”Apakah engkau dahulu mempunyai penyakit belang (kusta), lalu Allah
menyembuhkanmu dari penyakit itu kecuali sebentuk dirham yang tersisa?”
Uwais
menjawab,”Ya.”
Umar
bertanya lagi,”Apakah engkau mempunyai seorang ibu?”
Dia
menjawab,”Ya”
Umar bin
Khatab mengatakan,”Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sllam
bersabda,’Akan dating pada kalian Uwais bin Amir, dari penduduk Yaman, dari
Murad dan Qarn. Dahulu ia mempunyai penyakit kusta lalu sembuh, kecuali
sebentuk dirham yang masih tersisa. Ia mempunyai seorang ibu. Ia sangat
menghormatinya. Seandainya dia bersumpah, ia pasti akan memenuhinya. Jika
engkau bisa, kiranya dia memintakan ampunan
untukmu, maka lakukanlah.’ Maka mintalah ampunan untukku, wahai Uwais!
Lalu
Uwais memintakan ampunan untuk Umar bin Khatab. Kemudian Umar berkata
kepadanya,”Kemanakah engkau hendak pergi?”
Uwais
menjawab,”Saya ingin pergi ke Kuffah”
Umar
mengatakan,”Tidaklah sebaiknya aku menulis surat untukmu bawa kepada penguasanya?”
Uwais
menjawab.”Saya berada di tengah-tengah kebanyakan orang (bukan di antara orang-orang yang
terkenal-peny), itu lebih saya cintai.”
Maksudnya,
ia lebih menyukai tinggal bersama-sama dengan rakyat biasa, dan bukan
tokoh-tokoh masyarakat. Ia menghindarkan diri dari dunia dan tidak mengiginkan
sesuatu apapun dari pemilik harta dan kekuawasaan.
Umar
bertanya lagi kepada Uwais,”Siapa yang engkau tinggalkan di Yaman?”
Ia
menjawab,”Saya meninggalkan ibuku.”
Kemudian
Umar meminta dengan sangat sekali lagi pada Uwais agar sudi memintakan ampunan
kepada Allah untuknya. Umar berkata,”Mintakanlah ampunan untukku, wahai Uwais!”
Uwais
balik bertanya,”Apakah orang sepertiku memintakan ampunan untuk orang
sepertimu, wahai Amirul Mukminin?”
Umar
mengulang-ulang pemintaanya. Uwais pun memintakan ampunan untuknya dan mendoakannya,”Ya
Allah, ampunilah Umar bin Khatab.”
Umar
berkata kepada Uwais,”Sejak hari ini, engkau adalah saudaraku dan janganlah
engkau berpisah dariku!”
Sejak
saat itu, Uwais beusaha lepas dari jaminan kehidupan dari Umar. Ia bermkasud
menuju ke Kuffah untuk mencari rizki, mendekatkan diri dengan para ulama dan
orang-orang yang zuhud di bumi,irak. Di sana ia menemui berbagai kesulitan yang tidak tergambarkan. Karena sikap
zuhudnya dari dunia, di Kuffah ada orang yang mencaci-makinya hingga menyakiti
hatinya dan mengejeknya dengan ejekan yang menjadikan tidak sanggup bertemu
orang lain.
Tapi
Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya ini di manapun ia berada. Dia
menjadikan orang membelanya dari gangguan. Allah Maha Mengetahuinya dan Maha
Melihat, sebagaimana Dia sepanjang waktu Maha Mengetahui keadaan
hamba-hamba-Nya yang shalih.
Saat
lepas dari Umar bin Khathab dan pergi menuju ke Kuffah, Umar berkata,”Semoga
Allah memberikan kasih sayang kepadamu. Tempatmu di sini hingga masuk Makkah
dan membawakan untukmu nafkah dari pemberianku dan keutamaan pakaian dari
pakainku.” Kemudian Umar meyakinkannya dengan mengatakan,”Tunggulah di sini,
wahai Uwais! Ini adalah tempat perjanjian antara diriku dengan dirimu.”
Uwais
menjawab,’Wahai Amirul Mukminin! Tak ada tempat perjanjian antara diriku dengan
dirimu. Saya tak melihatmu setelah hari ini engkau akan mengetahuiku. Wahai
Amirul Mukminin! Apa gerangan yang saya lakukan dengan nafkah itu? Apa gerangan
yang saya pembuat dengan pakaian itu? Tidaklah engkau lihat saya mengenakan
sarung dari wol, pakaian atasan dari wol. Kapankah engkau melihatku
merobek-robeknya. Tidaklah engkau melihat kedua terompahku yang dekil? Kapankah
saya merusaknya? Tidaklah engkau melihatku telah mengambil upah hasil gembala
kambing sebanyak empat dirham? Kapan engkau melihatku membelanjakannya?
Wahai
Amirul Mukminin! Sesungguhnya di hadapanku dan di hadapanmu ada pintu sempit
yang dimasuki kecuali rasa yang ringan dan lemah. Maka ringankanlah. Semoga
Allah memberikan kasih sayang-Nya kepadamu.”
Demikianlah
gambaran sikap zuhudnya. Mendengar penuturan Uwais, Umar bin Khathab
melemparkan apa yang ada di tangannya ke tanah, seraya berteriak,’Andaikan ibu
Umar tidak melahirkan Umar. Andaikan dia mandul dan tidak merawat kandunganya.
Ingatlah olehmu, siapa yang mengambil dunia dengan isinya?”
Uwais
berangkat menuju Mkkah mengantar kepergian Uwais. Uwais pun menggiring untanya,
lalu memberikanya kepada pemiliknya dan meninggalkan tempat penggembalaan. Ia
berjalan penyembahan pada Allah sepanjang hidupnya.
Di Kuffah,
majelisnya adalah majelis orang-orang yang zuhud. Ia menjadi pemimpin dan guru
orang-orang zuhud. Dalam keyakinanya, akhirat adalah negeri yang mantap dan
negeri kebenaran.
Jika
kita hendak melihat Uwais di Kuffah lebih dekat, berikut penuturan salah
seoarang temanya dari delapan orang yang zuhud. Harim bin Hayan, memberikan
gambaran tentang pribadinya pada kita.
“saya
datang ke Kuffah. Tak ada tujuan bagiku kecuali menayakan tentang Uwais. Lalu
saya ditunjukan kearah sungai Eufarat yang ia gunakan untuk berwudhu dan
mencuci pakaiannya. Saya mengucapkan salam padanya dan menjulurkan tanganku untuk berjabat tangan. Namun ia
menolak. Pelajaran berharga itu memenuhi relung hatiku saat melihat
kondisinya.”
Harim
tak mengenalnya sebelum menjulurkan tangannya untuk berjabatan tangan
dengannya.”Saya mengenalinya sifat tanda (yang dimaksukan adalah belang kulit
dengan warana kekuning-kuningan). Ternyata ia adalah orang yang warna kulitnya
sangat putih(pucat) dengan rambut kepala yang plontos dan jenggot sangat tebal,
sehingga menjadi penampilan yang menakutkan.”
Ketika
ia menolak uluran jabat tanagn, Harim kembali berkata,”Salam untukmu wahai
Uwais. Bagaimana kondisimu sekarang , wahai saudaraku?”
Uwais
menjawab,”Dan engkau, semoga Allah memberimu kegembiraan, wahai Harim bin
Hayyan. Siapa yang menunjukan kepadaku?”
Harim
menjawab,”Allah jualah yang menunjukanku kepadamu,”
Uwais
menyitir salah satu ayat:
وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ
كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولا (١٠٨)
108. Dan
mereka berkata: "Maha suci Tuhan Kami, Sesungguhnya janji Tuhan Kami pasti
dipenuhi".
(QS.
al-Isra:108)
Harim
berkata,”Semoga Allah merahmatimu. Dari mana engkau mengenal namaku dan nama
ayahku? Sungguh, demi Allah, saya tidak pernah melihatmu sebelum hari ini. Dan
engkau juga tiadak pernah melihatku!”
Uwais
menjawab,’Ruhku mengenal ruhmu saat saya mebisikan kepada diriku. Sebab
sesungguhnya ruh-ruh itu memiliki jiwa, sepertiku pada raga. Bahwa orang-orang
yang beriman saling mengenal satu sama lainnya dengan pertolongan ruh dari
Allah. Meskipun berjauhan rumah dan tempat yang terpisah.”
Saat itu
juga Harim duduk di samping temanya itu dan berharap dapat mendengar pelajaran
darinya. Sebab sebelumnya dia telah mendengar tentang dirinya dan kezuhudanya.
Suasana diam itu berlangsung lama hingga Harim memulai
pembicaraan,”Ceritakanlah kepadaku wahai saudaraku tentang hadist dari
Rasulullah agar saya menghafalnya darimu!”
Ia
menjawab,”Saya tidak mengalami hidup di masa Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam. Saya tidak pernah menjadi shahabat beliau. Saya banyak bertemu
dengan orang-orang yang melihatnya. Haditsnya telah sampai kepadaku seperti
juga telah sampai kepada kalian. Sedang saya tidak suka membuka pembahasan ini
pada diriku. Saya tak ingin menjadi hakim atau mufti. Dalam diriku ada
kesibukan dan menyibukkan diri. Tak ada waktu luang untuk berbicara. Saya hanya
beramal untuk kehidupan akhiratku.”
Harim
mengatakan,”Kalau begitu, kami akan mendengar ayat-ayat kitab Allah dari
bacaanmu. Berdoalah kepada Allah untukku dengan doa-doa. Dan berilah saya suatu
wasiat.”
Saat
itu, sungai Eufarat mengiring. Semilir udara sungai berhembus di atas kepada
kedua orang yang zuhud itu: uwais dan Ibnu Hayyan. Lalu Uwais mengammit tangan
temanya ini dan mengajak berjalan di tepian sungai Eufarat sambil
berbincang-bincang. Ia mengatakan,”Tuhanku! Sejujur-jujurnya perkataan Tuhanku.
Sebenar-benar pembicaraan adalah dari Tuhanku. Tuhanku! Sebaik-baik perkataan
adalah perkataan Tuhanku Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Aku berlindung kepada
Allah dari godaan syetan yang terkutuk,”Sesungguhnya hari kepurusan (hari
kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka
semuanya,,”(QS.ad-Dukhan:40).
Kemudian
Uwais menghela napas berat setelah ayat ini. Temanya Harim bin Hayyan
mengirannya sedang tak sadarkan diri. Lalu Uwais kembali membaca ayat:”Yaitu
hari yang mengira seorang tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya
sedikitpun, dan mereka tak akan mendapat pertolongan. Kecuali orang yang diberi
rahmat oleh Allah, Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Mha
Penyayang,”(QS.ad-Dukhan:41-42)
Uwais
memandang kearah Harim dan berkata,”Wahai Harim bin Hayyan! Ayahmu telah
meninggal dan engkau hampir meninggal dunia. Antara dua pilihan tempat : surga
atau neraka. Adam telah meninggal dan juga Hawa, wahai Ibnu Hayyan. Ibrahim
kekasih Allah telah meninggal, wahai Ibnu Hayyan. Musa, nabi yang Allah
selamatkan juga telah meninggal, wahai Ibnu Hyyan! Muhammad Shallallahu Alaihi
wa Sallam telah meninggal. Abu Bakar, khalifah kaum muslimin telah meninggal,
dan saudaraku, temanku dan kekasihku, Umar telah meninggal.” Kemudian ia
memanggil nama dengan Umar dengan keras,’Wahai Umar…Wahai Umar…”
Harim
menyela,’Semoga Allah merahmatimu. Sesungguhnya Umar belum meninggal!”
Uwais
menjawab,”Ya, benar. Sesungguhnya Tuhanku telah memberikan berita duka tentang
kematiannya kepadaku. Saya mengetahui apa yang saya katakan. Saya dan engkau ,
besok akan menjadi bagian dari orang-orang yang sudah mati.”
Kemudian
ia mendoakan Harim dengan doa yang pendek.”ini adalah wasiatku kepadamu wahai
Ibnu Hayyan. Adalah Kitab Allah dan berita-berita duka tentang kematian
orang-orang yang shalih dari golongan kaum muslimin. Saya beritahukan kepadamu
tentang berita kematianku. Sebaiknya engkau selalu mengingat mati. Jika engkau
mampu, agar ingatanmu itu tidak lepas dari hatimu seditik saja, maka
lakukanlah! Beritakan hal ini kepada kaummu setelah engkau kembali kepada
mereka. Bersungguh-sungguhlah untuk dirimu. Janganlah sekali-kali memisahkan
dirimu dari jamaah, maka engkau memisahkan agamamu sedang tidak merasakannya,
hingga engkau mati dan masuk ke dalam neraka di hari kiamat kelak.”
Kemudian
ia mengadahkan muka ke langit dan berdoa,”Ya Allah, orang ini mengaku
mencintaiku dalam mencari keridhaan-Mu. Dia mengunjungiku karena-Mu.
Pertemukanlah dia denganku sebagai penghujung surga, negeri kedamaian.
Relakanlah untuknya bagian yang sedikit dari dunia dan apa yang Engkau berikan
kepadanya sesuatu dari dunia. Jadikanlah dia dalam kemudahan ddan perlindungan.
Jadikanlah amal perbuatan yang Engkau berikan itu menjadi bagian dari
orang-orang yang bersyukur.”
Uwais
menjabat tangan Harim, dan memeganginya seraya berkata,”Saya menitipkan
kepadamu Allah, wahai Harim bin Hayyan. Selamat jalan! Jangan lgi mencariku dan
bertanya tentangku. Saya akan selalu mengingatmu dan insya Allah akan selalu
mendoakaanmu.”
Kemudian
ia memberikan isyarat dengan tangannya,”Barangkatlah dari arah ini.”
KemudiaHarim
pun pergi. Harim memintanya untuk berjalan bersamanya. Namun ia menolak dan
berpisah dengannya seraya menagis, bsementara Harim juga mengis.
Harim
menceritakan:
Kemudian
Uwais masuk ke suatu parit dan menghilang dari pandanaganku. Berapa kali saya
mencoba bertemu denganya setelah hari itu, namun tidak menemukan seorang pun yang memberitahukan
tentang keberadaannya. Saya kembali ke Basrah, tempat saya pertama kali mencari
Uwais. Di Kufah ia menghabiskan hari-hari ibadahnya. Saya mengingatnya, hingga
menemukan banyak kelembutan dan kejernihn dari pembicaraannya tentang zuhud dan
orang-orang zuhud. Suatu sore, ia pernah mengatakan:”Ini adalah malamku ruku.’
Maka ia melakukan ruku’ (shalat) hingga Shubuh menyising.”
Suatu
sore ia juga berkata,”Ini adalah malam sujud.” Maka ia sujud hingga waktu
Shubuh. Ia juga menyedekahkan apa saja yang ada dirumahnya, mulai darimakanan
dan pakaian, lalu iia berucap,”Ya Allah! Siapapun yang mati kelaparan, maka
janganlah Engkau menuntutku karennaya. Siapapun yang mati dan tidak mempunyai
pakaian, maka jnganlah Engkau menuntut karenanya.”
Saat
sedang duduk di depan masjid di Kufah, ada seoarang dari kaum Murad lewat. Lalu
ia menyapanya,”Bagaimana kabarmu pagi inin, wahai saudara dari suku Murad?”
Orang
itu menjawab,”Pagi ini, saya memuji Allah.”
Lalu
orang itu balik bertanya,”Bagaimana masa melewati hidupmu?”
Uwais
menjawab,”Bagaimana dengan masa bagi seoarang yang ketika pagi ia mengira tidak
ketemu sore. Dan ketika sore, ia mengira tidak bertemu pagi. Apakah ia akan
dapatkan surge atau neraka? Washai saudara dari Mrad, sesungguhnya mati dan
mengingatnya tidak menyisakan kegembiraan bagi seoarang mukmin. Ilmu dan
keyakinannya dengan hak-hak Allah sehingga tidak menyisakan hartanya, baik emas
atau perak. Aktivitasnya pada kebenaran tidak meninggalkan teman baik
untuknya.”
Pelajaran yang dapat diambil dari tokoh kita ini:
Pertama,
pengetahuan dan keyakinan tentang hak-hak Allah. Ia tak menyisakan sesuatu dari
hartanya, karena begitu kuatnya kecintaannya untuk menunaikakan hak-hak itu dan
perasaannya bahwa semua hartanya adalah milik Allah.
Kedua,
kecenderungannya pada kebenaran dan perkataan yang benar. Ia tak menarik
kekaguman dari banyak orang. Begitu kukuhnya ia, sehingga tak menyisakan
seorang teman baginya. Semua temannya menjauh darinya.
Semoga
Allah merahmati hamba yang zuhud ini. Ia telah mengutarakan tentang kedalaman
islam. Sementara kita sangat jauh dari sifat itu. Bukanlah sikap zuhud mencakup
sikap qana’ah (menerima pa adanya) berupa harta duniawi. Semua sifat itu tampak
jelas keagungannya dalam pribadi Uwais.
Orang-orang
yang hidup semasa dengannya banyak menuturkan potret zuhudnya di kufah
sepanjang hidupnya hingga menemui Tuhannya. Dantaranya adalah Usad bin Jabir,
salah seorang teman dekatnya:
“Dulu di
kufah ada seorang yang mengucapkan sesuatu yang tidak saya dengar dari siapapun
mengatakanya. Lalu saya kehilangan dirinya dan tidak menjupainya, hingga saya
menanyakan tentang dirinya. Orang-orang menjawab,’Orang itu adalah Uwais
al-Qarni.”
Saya
mencarinya dan mendatanginya, lalu berkata,’Apa yang membuatmu menghindari
kami, wahai Uwais? Kami tak melihatmu duduk untuk berbicara dengan kami? Lalu
ia mendatangi pakainnya yang lusuh, sebelumnya banyak orang mengejeknya dan
mengganggunya karena penampilannya yang buruk.
Usaid
bin Jabir berkata,’Ambilah kain beludurku inio untukmu kenakan!” ia menolak
pemberian itu. Usaid terus membujuknya sampai ia mau menerimanya. Uwais pun
berkata.”Sesungguhnya mereka akan terus menyakitiku ketika mereka melihat kain
bludurmu ini ada pundaku.”
Usaid
pergi menemui orang-orang yang dimaksud dan mengatakan ,”Apa yang kalian
inginkan dari orang ini? Kalian telah menyakitinya. Bukanlah orang ini suatu
ketika tak berpakaian, tapi mengenakan pakaian pada kesempatan lain?” Usaid
terus memarahi mereka dengan keras dan tegas.
Hari-hari
berlalu. Orang-orang yang telah mengejek Uwais ini pergi menghadap Umar bin Khathab
di Madinah. Di antara pembicaraan Umar kepada mereka ini,”Apakah di
tengah-tengah kalian ada seseorang dari suku al-Qarn?” Mereka menjawab,”Ya, ia
bernama Uwais.”
Umar
berkata,”Sesungguhnya orang itu berasal dari Yaman. Namanya Uwais. Ia tak
meninggalkan seseorang di Yaman kecuali Ibunya. Dulu ia terkena penyakit kusta.
Lalu dia berdoa, hingga Allah
menghilangkan penyakit itu kecuali
masih tersisa sebesar uang dirham. Siapapun dari kalian yang bertemu
dengannya, hendaknya kalian menyuruhnya untuk mendoakan kalian. Saya telah
mengetahuia abahwa ia berada di tengah-tengah kalian; Kufah.”
Umar
menuturkan cirri-ciri ia kepada mereka. Salah seorang dari mereka
berkata,”Itulah orangya yang selalu kami ejek dan caci-maki.”
Umar
berkata,”Uwais?”
Seorang
dari Kufah itu menjawab,”Dialah Uwais, wahai Amirul Mukminin.”
Umar
berkata,’Temukanlah ia! Temukanlah ia! Aku tidak melihatmu memahami apa aku
katakana. Temukanlah Uwais!” maka orang itu kembali ke Kufah, lalu menemuai
Uwais sebelum pulang ke rumahnya. Uwais berkata seperti kebiasaaanmu. Apa yang
terjadi denganmu? Saya mohon kepadamu, jangan engkau ulangi ejekkanmu.”
Orang
itu menjawab,’Saya bertemu Umar dan mengatakan demikian. Maka mintakanlah
ampunan untukku, wahia Paman!”
Uwais
menjawab,”Saya tidak memintakan ampunan untukmu hingga engkau menjadikan diriku
sama denganmu untuk tidak mengejekku lagi. Jangan sekali-kali engkau ceritakan
perkataan Umar ini kepada siapapun.”
Orang
itu meyakinkan,”Engkau dapatkan hakmu itu.”
Lalu ia
memintakan ampunan auntuknya dan pergi.
Namun
pembicaraan yang dimaksud telah menyebar di seantero Kufah. Penduduknya pun
berniat memuliakan dan mengaggungkannya ketika mendengar cerita tersebut. Uwais
menyingkir menuju ke tempat persembuyiannya demi menghindari kedudukan dan
kekuaasaan dunia.
Semoga
Allah merahmati Uwais. Ia adalaha guru besar zuhud yang sebenarnya. Ia tak
mempunyai pakaian, bukan karena sedikitnya bantuan kepadanya atau karena
kebutuhannya. Tapi seperti yang diceritakan oleh orang-orang semasanya,”Uwais
al-Qarni sering bersedekah dengan pakaiannya. Pernah suatu ketika, ia duduk
tanpa pakaian kecuali sesuatu yang
menutupi auratnya. Ia juga tidak mendapati sesuatu yang pantas menuju shalat
Jum’at.”
Semoga
Allah merahmati Uwais. Ia adalah seorang yang tsiqah dan jujur, hingga Umar bin
Khathab sering memujinya. Inilah pujian Umar yang memandang dimina diatas
mimbar,"Wahai penduduk Qarn". Tokoh-tokoh penduduk Qarn lalu berdiri,
Umar bertanya,"Apakah sekarang Uwais berada ditengah kalian?."
Salah
seorang tokoh menjawab."Wahai Amirul Mukminin, itu adalah orang gila yang
tinggal di gubuk. Ia tidak lembut dan tidak dapat diperlakukan lembut."
Umar berkata,'Itulah orang yang aku maksudkan,
jika kalian pulang , carilah dia! Sampaikan salamku dan salam Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam, kepadanya."
Ketika
pesan Umar ini sampai pada Uwais, ia berkata," Amirul Mukminin telah
memperkenalkanku dan membuat namaku tersebar. Ya Allah, semoga Engkau
memberikan kebahagiaan dan keselamatan kepada Muhammad dan kepada keluarganya.
Salam untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Setelah
itu, Uwais lagi-lagi bersembunyi. Ia selalu bersikap ini untuk kurun waktu lama. Ia senantiasa
mengajak umat manusia dan menjadi ikon
dalam zuhud. Ia adalah orang yang menjadikan banyak umat Muhammad ini masuk
syurga dengan syafaatnya, selain dari suku Mudhar dan suku Tamin.
Masa
pemerintahan Umar terkenal dengan pembukaan wilayah-wilayah Islam. Peperangan
yang paling sengit adalah peperangan kaum muslimin di Azerbaijan . Wilayah ini berhadil ditakkulkan , sehingga berkibarlah panji-panji
Islam. Berikut ini adalh Abdullah bin Salamah seorang pahlawan perang di Azerbaijan , tentang Uwais al-Qarn:
"Kami berperang di Azerbaijan pada masa pemerintahan Umar bin Khathab. Dalam pasukan kami terdapat
Uwais al-Qarn. Ketika kami pulang dari peperangan , kami melihat sakit
menjangkitnya, kami membawanya dan merawatnya semampu kami. Namun ia tidak
tertolong hingga meninggal dunia. Lalu kami berhenti. Tiba-tiba sudah ada
kuburan yang tergakli, ada air ang tertampung, juga kafan dan wewangian. Kami
memandikanya dan mengkafaninya. Lalu kami shalati dan mengkuburnya."
Salah
seorang dari kami berkata,"Seandainya kita kembali untuk mengetahui
(letak) kuburanya,"Lalu kami kembali ketempat yang dimaksud. Ternyata kami
tak menemukan kuburan dan juga bekas jejaknya."
Semoga
Allah merahmati tokoh zuhud ini. Ia telah menghindarkan diri dari dunia.
Yoga.com
Komentar
Posting Komentar